REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penguatan industri daur ulang di Indonesia dinilai tidak cukup hanya dengan meningkatkan volume material yang dikumpulkan dan diproses. Penguatan infrastruktur digital dinilai penting agar aktivitas daur ulang yang selama ini tersebar di masyarakat, bank sampah, pengumpul, perusahaan daur ulang, hingga industri pengguna material hasil daur ulang dapat terintegrasi dalam satu ekosistem data. Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), dan PT ESGIN Global Partners (ESGIN) merespons kebutuhan tersebut melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat digitalisasi industri daur ulang plastik Indonesia. Kolaborasi tersebut akan diarahkan pada pembangunan infrastruktur data yang memungkinkan aktivitas pengumpulan dan daur ulang dicatat secara digital. Dalam kerja sama ini, ADUPI berperan melalui ekosistem industri daur ulang yang mencakup perusahaan anggota, recycler, collector, bank sampah, dan pelaku industri terkait.