REPUBLIKA.CO.ID, NABIRE, – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Papua Tengah mengalami kontraksi sebesar 15,44 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan (y-on-y). "Ketika sektor pertambangan mengalami pergejolakan, secara otomatis pertumbuhan ekonomi Papua Tengah juga akan ikut bergejolak," ujar Dio Ginting. Penyebab Kontraksi EkonomiDio menegaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi secara tahunan ini bukan dipicu oleh melemahnya aktivitas usaha masyarakat. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan volume penjualan tembaga dari 82 juta pons pada triwulan I 2026 menjadi 153 juta pons pada triwulan II 2026. Dengan mengecualikan sektor tersebut, ekonomi Papua Tengah justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,45 persen secara tahunan.