Dalam pidato yang pada mulanya berbicara tentang demokrasi, kedaulatan, dan pembangunan nasional, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak antikritik. Mereka, katanya, dahulu disebut londo ireng, kini mereka hadir dengan pakaian baru, bisa berupa jurnalis, pengamat, akademisi, maupun lembaga swadaya masyarakat. Baca juga: Hasto PDIP Tanggapi Pernyataan Prabowo soal Londo Ireng: Suara Kritis Seharusnya Diberi RuangSebab dalam politik, bahasa tidak pernah hanya menjadi alat komunikasi. George Orwell pernah mengingatkan bahwa bahasa politik sering kali dipakai bukan hanya untuk menjelaskan realitas, tapi untuk membentuk realitas yang diinginkan penguasa. Di sinilah istilah londo ireng menjadi menarik untuk dibaca, bukan sebagai persoalan linguistik, tapi sebagai fenomena filsafat politik.