Liputan6.com, Jakarta - Gempa merusak yang terjadi di Kolombia baru-baru ini membuktikan, seismisitas aktivitas gempa besar di seputar Cincin Api Pasifik selama 2026, hingga Agustus ini, menunjukkan konsentrasi seismisitas gempa signifikan global yang sangat tinggi. "Hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan, telah terjadi 10 peristiwa gempa dengan Magnitudo di atas 7," katanya. Wilayah Pasifik Selatan juga menunjukkan pelepasan energi tektonik yang intensif, sebagaimana terekam pada kejadian gempa Tonga (M7,5 pada 24 Maret) dan Vanuatu (M7,3 pada 30 Maret). "Rangkaian fenomena seismik global di atas memberikan alarm nyata bagi Indonesia, yang secara geografis berada tepat di persimpangan lempeng-lempeng tektonik utama Cincin Api Pasifik," katanya. Kehadiran beberapa zona kekosongan gempa di zona sumber gempa (seismic gap) dan tingginya akumulasi stres pada segmen-segmen megathrust, seperti di lepas pantai Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia, menuntut penguatan mitigasi bencana secara berkelanjutan dan terstruktur.