Liputan6.com, Jakarta - Kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara dilaporkan semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan operasi pencurian aset kripto mereka. Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (11/8/2026), laporan terbaru dari perusahaan intelijen blockchain TRM Labs menyebutkan bahwa hacker Korea Utara mencuri US$ 643 juta atau sekitar Rp 11 triliun (kurs Rp 17.756 per dolar AS) dalam bentuk mata uang kripto selama semester pertama 2026. AdvertisementSecara global, TRM Labs mencatat terdapat 207 insiden peretasan yang menyebabkan kerugian sekitar US$ 972 juta atau sekitar Rp 17 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026. Penelitian perusahaan keamanan siber Korea Selatan Genians mengungkap bahwa Kimsuky, kelompok yang berada di bawah Reconnaissance General Bureau Korea Utara, mulai mengintegrasikan AI generatif ke dalam strategi peretasannya. Sebelumnya, kelompok peretas Korea Utara dikenal sering menargetkan kalangan diplomat, akademisi, dan profesional keamanan melalui email yang tampak berasal dari kontak resmi atau terpercaya.