Sebagaimana melansir laman Therapeutic Self Care, musik mampu mengaktifkan berbagai area otak, termasuk area yang bertanggung jawab atas emosi. Ketika seseorang membuat playlist, mereka tidak hanya mengelompokkan musik, tetapi membuat pilihan tentang apa yang ingin didengar, kapan, dan dalam urutan apa, yang mencerminkan bagaimana mereka ingin merasa atau bagaimana mereka mencoba mengatasi perasaan yang sudah ada. Salah satu teknik yang digunakan dalam terapi musik adalah 'Prinsip ISO', di mana musik dicocokkan dengan suasana hati klien, kemudian secara bertahap diubah untuk memengaruhi keadaan suasana hati yang diinginkan. Misalnya, jika seseorang merasa cemas, playlist dapat dikurasi untuk membantunya beralih dari keadaan cemas ke keadaan tenang. Playlist regulasi emosi yang efektif dimulai dengan musik yang mencerminkan suasana hati saat ini, lalu secara bertahap bergeser dalam nada, tempo, dan intensitas menuju keadaan emosi yang lebih positif atau seimbang.