Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) telah memangkas kuota produksi bijih nikel dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) menjadi 260-270 juta ton pada 2026. Dalam diskusi pada Strategic Response Meeting (SRM) Kadin, terhitung ada potensi hilangnya 3,5 juta hingga 5 juta ton ekspor nikel. "Dunia usaha sudah mengingatkan bahwa kepastian RKAB sebagai prioritas dari SRM kita itu sudah memproyeksikan itu 3,5 (juta ton) sampai dengan 5 juta ekspor niker yang akan hilang, dari 0,3 sampai 0,5 persen penurunannya. Kuota Produksi Nikel 2026Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memangkas produksi nikel nasional pada 2026 menjadi sekitar 250–260 juta ton. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang mencapai 379 juta ton.