Liputan6.com, Jakarta - Berdamai dengan masa lalu kerap disalahartikan sebagai upaya melupakan. Di tengah dorongan untuk selalu tampak kuat, buku puisi "To See Myself Clearly" karya Kaylee Nicole Pangestu menghadirkan sudut pandang berbeda: menerima rapuhnya diri agar luka tidak lagi mengendalikan hidup. Psikolog menyebut memberi nama pada perasaan—lewat jurnal, catatan pribadi, atau karya kreatif—dapat membantu proses penyembuhan emosional. Gagasan ini menjadi benang merah yang mengalir di seluruh halaman buku, menuntun pembaca memahami emosi tanpa menepisnya. Terbit oleh Insight Unlimited, kumpulan puisi ini tidak menawarkan jawaban instan atas kegelisahan, tetapi membuka ruang aman untuk mengakui lelah, takut, dan belum baik-baik saja—sebuah langkah kecil yang kerap paling sulit dilakukan.