Liputan6.com, Jakarta - Raksasa energi asal Inggris, Shell, mencatat lonjakan laba bersih hingga tiga kali lipat menjadi US$ 10,8 miliar atau sekitar Rp 195,2 triliun pada kuartal kedua 2026. Lonjakan laba didorong oleh melambungnya harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah. Hal ini dipicu oleh fluktuasi tajam harga minyak dan gas berjangka menyusul dinamika perang Timur Tengah. Tingginya harga minyak dunia pada kuartal kedua tahun 2026 terjadi seiring terganggunya pasokan global akibat perang AS-Iran. "Sebagian tergerus oleh penurunan volume produksi, terutama akibat dampak konflik di Timur Tengah".