Liputan6.com, Jakarta Di sebuah sore yang tenang di Desa Baling Karang, Aceh, anak-anak duduk melingkar di atas tikar pandan. Setiap halaman yang dibuka seakan menjadi pintu ajaib membawa mereka terbang melintasi hutan, laut, hingga negeri-negeri jauh yang baru pertama kali mereka dengar. Ada yang terkekeh melihat gambar binatang aneh, ada yang serius mengeja kata demi kata. Bagi mereka, buku bukan sekadar bacaan, melainkan jendela dunia yang sebelumnya terasa begitu jauh. Advertisement"Dulu saya malu, tapi sekarang saya mau orang lain tahu kalau saya bisa."